Tampilkan postingan dengan label 2020. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2020. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Januari 2024

Kasus Penampakan UFO di atas Taman Fathan, Hambalang, Citeureup, Bogor, pada Tahun 2020

gambar: ilustrasi karya saksi mata, berdasarkan ingatannya

Kasus penampakan UFO di atas Taman Fathan, Hambalang, Citeureup, Bogor, pada tahun 2020, pukul 11/12 malam.

UFO berbentuk piring terbang berwarna perak, bersembunyi di balik awan, dan awannya mengikuti terbangnya UFO tersebut.

UFO tersebut seperti sedang berputar. Bunyi mesinnya seperti pesawat jet.

Saksi mata ada tiga orang. Semuanya takut merekam objek tersebut. "Takut benda itu menembak".

Jarak objek dengan para saksi sekira 80 meter. Cukup dekat.

Di bawah ini adalah keterangan dari salah seorang saksi mata, yang bernama Agung Muthaqin:

"Gw pernah liat benda terbang aneh 2020 di Hambalang, bentuknya kaya mesin gitu, muter melingkar ketutup awan gitu, jadi awannya itu ngikutin si mesin itu bergerak, kurang lebih dua menit gw liatin, abis itu dia terbang ke atas, ga ada lampu di benda itu, cuman keliatan mesin muter.

"Saya waktu itu udah ngeluarin hape, ada warga sana bilang jangan direkam 'takut benda itu nembak' katanya, karna ada warga lain, tiga orang yg melihat itu juga,"

"Iya, saya juga takut pas mau ngeluarin hape, karna emang deket bgt terbangnya keliatan pinggiran mesinnya doang gitu, sebelum pergi ke atas kedengeran suara mesin gitu, kaya' suara pesawat jet,"

"Kalo diilustrasikan seperti ini, si benda terbangnya itu bergerak muter dan ga ada lampu gitu,"

"Iya piring terbang, tapi miring gitu terbangnya,"

"Ada suaranya pas mau terbang tinggi gitu, kaya suara mesin lagi ngisi tenaga gitu, sebelum terbang tinggi,"

"Jarak kurang lebih 80 meteran lah, ga tau juga si jaraknya, cuman kalo diliat jarak pandangnya, lumayan deket objeknya,"

"Warna (objek) silver putih gitu,"

"Mungkin setengah lapangan bulu tangkis yg saya liat dari ukuran manusia mah,"

"Tanggal bulan saya lupa, itu tahun 2020 berlokasi di Taman Fathan Hambalang jam 11-12 malam,"

Selasa, 29 Desember 2020

Astronom Rekam Cigar-Shaped UFO Ukuran Raksasa di Rasi Bintang Leo

KabarUFO, Jakarta - Seorang astronom berhasil merekam video dari dua buah cigar-shaped UFO ukuran raksasa yang terbang di rasi bintang Leo. Seperti apa?

Seorang astronom bernama John Seindis merekam dua buah cigar-shaped UFO ukuran raksasa yang terbang di rasi bintang Leo.

Penampakan UFO tersebut terjadi pada dini hari tanggal 26 Desember 2020, di sekitar rasi bintang Leo.

"Saya tidak sengaja menemukan benda seperti tongkat yang tidak dapat diidentifikasi pada dini hari tanggal 26 Desember," terang Seindis.

John Seindis menulis kalau ia merekam UFO tersebut dengan menggunakan teleskop Radian Raptor 61 f/4.5 Imaging APO, kamera Zwo ASI1600MC Pro, serta software SharpCap Pro.

Seindis kemudian mengunggah video penampakan cigar-shaped UFO tersebut di saluran YouTube miliknya pada 27 Desember 2020. Tonton videonya di bawah ini.


Kamis, 17 Desember 2020

Mantan Direktur CIA Periode 2013-2017: "Fenomena UFO Bisa Jadi Jenis Aktivitas dari Bentuk Kehidupan Lain"

KabarUFO, Jakarta - Topik tentang UFO pada tahun 2020 jadi semakin ramai dan kian banyak orang-orang penting yang angkat bicara. Kini giliran mantan Direktur CIA (Central Intelligence Agency) yang membicarakan hal tersebut.

Mantan Direktur di CIA periode 2013-2017, John Brennan, ketika diwawancara mengenai topik UFO oleh pakar ekonomi dari George Mason University, Tyler Cowen, mengatakan kalau manusia itu arogan jika menganggap tidak ada kehidupan lain selain di Bumi, dan fenomena UFO bisa jadi merupakan jenis aktivitas dari bentuk kehidupan lain.

"Saya pikir sedikit angkuh dan arogan jika kita percaya kalau tidak ada bentuk kehidupan lain (selain di Bumi) di alam semesta ini," ujar Brennan, ketika diwawancara oleh Tyler Cowen di acara podcast Converstations With Taylor, yang diunggah ke YouTube pada 16 Desember 2020.

"Beberapa dari fenomena (UFO) yang akan kita terus lihat ke depannya, akan tetap misterius, faktanya, beberapa fenomena (UFO) ini adalah hasil dari sesuatu yang kita belum pahami, dan bisa jadi melibatkan jenis aktivitas dari, yang beberapa orang bilang, merupakan bentuk kehidupan lain," paparnya.

John Owen Brennan menjabat sebagai Direktur di Central Intelligence Agency (CIA) sejak Maret 2013 hingga Januari 2017.

Tyler Cowen adalah seorang Profesor Ekonomi dari George Mason University. Cowen banyak menulis artikel tentang ekonomi di berbagai media seperti: The New York Times, Bloomberg, The New Republic, The Wall Street Journal, Forbes, Newsweek dan Wilson Quarterly.   

Tonton videonya di bawah ini.

Tonton juga video wawancara penuhnya di bawah ini.

Sabtu, 12 Desember 2020

Beredar Email Arahan untuk Para Petinggi Militer AS Tentang UFO Pada Tahun 2019

 
KabarUFO, Jakarta - Pada tanggal 4 Agustus 2020 pihak Pentagon meresmikan tim gugus tugas khusus Unidentified Aerial Phenomena Task Force (UAPTF), namun baru-baru ini beredar screenshot email dari tahun 2019 yang berisi arahan untuk para petinggi militer AS tentang UFO.

Pihak The Debrief pada 2 Desember 2020 menerbitkan artikel yang berisi bocoran screenshot email, yang berisi arahan kepada para petinggi militer AS tentang UFO, pada tahun 2019.

Screenshot email tersebut didapatkan oleh pihak The Debrief via rikues Undang-undang Kebebasan Informasi (Freedom of Information Act / FOIA).

Email bertanggal 16 Oktober 2019 tersebut berisi komunikasi antara Admiral Robert Burke (Vice Chief of Naval Operations) dengan Jenderal Stephen "Steve" Wilson (Vice Chief of Staff for the Air Force).

Di email tersebut, Admiral Burke berkata kepada Jenderal Wilson, "Merekomendasikan anda untuk mengambil arahan yang baru saya terima dari Director of Naval Intelligence VADM, Matt Kohler, mengenai Unidentified Aerial Phenomena (UAP),”

"Pihak SECNAV [Secretary of the Navy] akan mendapatkan arahan yang sama besok pada pukul 10:00," tambah Admiral Burke di email tersebut.

Baca isi screenshot email tersebut di gambar atas. Perbesar gambarnya.

Selasa, 08 Desember 2020

Bapak Program Antariksa Israel: "Alien Itu Ada, Manusia Belum Siap untuk Kenyataan Itu, dan Federasi Galaktik Itu Ada"

 
 
KabarUFO, Jakarta - Seseorang yang dijuluki sebagai Bapak Program Antariksa Israel bernama Profesor Haim Eshed, mengatakan kalau alien itu ada, manusia belum siap untuk kenyataan itu, dan Federasi Galaktik itu ada.

Dilansir dari Jewish Press, Profesor Haim Eshed ketika diwawancara oleh 7 Days, edisi Shabbat dari surat kabar harian terbesar Israel, Yedioth Aharonoth, mengatakan kalau alien itu ada, manusia belum siap untuk kenyataan itu, dan Federasi Galaktik itu ada.

"Pihak alien (yang) meminta agar tidak diumumkan keberadaan mereka di sini (Bumi), (karena) manusia belum siap," ujar Profesor Haim Eshed.

"Trump sebenarnya sudah ingin mengungkap keberadaan tersebut, tapi pihak alien di Federasi Galaktik mengatakan: Tunggu, biarkan manusia tenang dulu. Mereka (para alien) tidak ingin memulai histeria massal. Mereka pertama ingin membuat kita (para manusia) waras dulu dan bisa memahami," tambah Eshed.

Selain itu, Profesor Haim Eshed juga mengatakan beberapa hal:

"Mereka (para alien) menunggu manusia untuk berevolusi dan sampai ke tahap, di mana kita bisa memahami apa itu luar angkasa dan pesawat luar angkasa. Ada perjanjian antara pemerintah AS dengan para alien. Mereka (para alien) juga menandatangani kontrak dengan para manusia, untuk melakukan eskperimen di sini (Bumi). Mereka (para alien) juga tengah meneliti dan berusaha memahami alam semesta, dan mereka ingin kita (para manusia) untuk membantu mereka. (memang) Ada pangkalan bawah tanah di planet Mars, tempat perwakilan mereka, dan (juga berisi) para astronot Amerika Serikat," papar Profesor Haim Eshed.

"Jika saya mengatakan hal ini lima tahun lalu, mungkin saya sudah dimasukkan ke rumah sakit. (dulu) Tiap kali saya mengatakan hal ini ke kalangan akdemis, mereka mengatakan: orang ini sudah gila. Sekarang mereka sudah siap membicarakan hal ini. Saya sudah nothing to lose. Saya telah menerima banyak gelar akademik dan penghargaan, saya dihormati di universitas-universitas luar negeri, yang mana trennya (penerimaan topik tentang UFO dan alien oleh masyarakat) juga sudah berubah," imbuhnya.


Siapakah Profesor Haim Eshed?


Profesor Haim Eshed adalah otak di balik program pengembangan satelit pengintai Offeq (Horizon) dan peluncur satelit Shavit (Comet) milik Israel Space Agency (ISA). Haim Eshed juga adalah Direktur dari kedua program tersebut sejak tahun 1983, dan banyak dijuluki sebagai 'Bapak Program Luar Angkasa Israel'.

Haim Eshed (87) mendapatkan gelar sarjana di fakultas Electrical Engineering, Technion Israel Institute of Technology. Eshed juga mendapatkan gelar master di bidang performance research dan gelar doktor di bidang aeronautical engineering.

Pada tahun 1965 Haim Eshed bekerja di unit teknologi, bagian Intelligence Division, di Israel Defense Forces (IDF). Pada tahun 1969 Eshed dikirim ke Amerika Serikat oleh bagian Miitary Intelligence di Israel Defense Forces, untuk mendapatkan gelar doktor di bidang aeronautical engineering. Sepulangnya dari AS, Eshed ditunjuk sebagai Head of the Research and Development Department di Israeli Intelligence Corps. Ia pensiun dari sana dengan gelar Letnan Kolonel.

Semasa karir militernya, Eshed bekerja sebagai Profesor di Technion’s Space Research Institute, pada tahun 1981 ia mendirikan dan menjadi Direktur pertama Challenge Program, sebuah unit dari Administration for Research, Development of Weapons and Technological Infrastructure (Mapat) di Kementrian Pertahanan Israel, yang bertanggung jawab atas proyek-proyek satelit Israel.

Eshed pensiun dari Kementrian Pertahanan Israel pada Oktober 2011, setelah meluncurkan 20 satelit Israel.

Sabtu, 05 Desember 2020

Ini Dia Foto UFO Yang Dipotret oleh Pilot Militer AS Pada Tahun 2019

KabarUFO, Jakarta - Pada 2 Desember 2020 situs The Debrief menerbitkan artikel tentang kasus UFO yang dilihat dan dipotret oleh pilot militer AS pada tahun 2019. Sehari kemudian (3/12) The Debrief meriis penampakan foto UFO tersebut. Seperti apa?

Dilansir dari TheDebrief, beragam sumber mengkonfirmsi ke The Debrief kalau pihak Unidentified Aerial Phenomena Task Force (UAPTF) baru-baru ini menerbitkan dua laporan penampakan UFO oleh pihak militer AS. Salah satu foto dari kasus tersebut pun akhirnya bocor.

Dua orang dari pihak Department of Defense dan satu dari United States Intelligence Community (IC) bersedia untuk memberikan detail konten dari laporan rahasia tersebut pihak The Debrief.

Tambahan tiga orang narsum dari pihak United States Intelligence Community (IC) dan penyelenggaraan hukum federal juga mengkonfirmasi keberadaan laporan tersebut, namun mereka hanya ingin berkomentar terkait distribusi dari laporan tersebut saja.

Meski The Debrief tidak menyediakan informasi nama dan jabatan dari para narsum, namun mereka memberi petunjuk kalau semua narsumnya bekerja di United States Intelligence Community (IC) dan Director of National Intelligence (DNI).

Salah satu laporan kasus tersebut adalah sebuah foto yang dikategorikan sebagai "unidentified".

Pihak The Debrief diberitahu kalau foto tersebut dipotret dari dalam kokpit pesawat jet tempur F/A-18, oleh sang pilot dengan menggunakan ponsel.

Kasus ini terjadi pada tahun 2019 di wilayah lepas Pantai Timur Amerika Serikat.

Laporan kasus ini menyebut kalau objek misterius tersebut mengambang tak bergerak ketika berhadapan dengan pesawat jet sang pilot.

Tiga narasumber untuk pihak The Debrief menyatakan kalau UFO tersebut sedang terbang di ketinggian 9,1 km hingga 10 km di atas permukaan tanah, dan berjarak 304 meter dari pesawat jet yang memotretnya.

Foto tersebut pun beredar luas di kalangan Intelijen AS dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

"Puluhan tahun bekerja di dunia Intelijen, saya belum pernah lihat sesuatu seperti ini," ungkap salah satu narsum The Debrief.

Para narasumber untuk The Debrief menyatakan kalau laporan pihak UAPTF ini didistribusikan dengan metode berbeda-beda. Ada yang mengaku mendapatkannya via Secret Internet Protocol Router Network (SIPRNet) milik Department Of Defense, ada yang mengaku mendapatkannya via NSANet (jaringan intranet resmi milik pihak National Security Agency), ada juga yang mengaku mendapatkannya via sistem Intelink milik CIA.

Menurut para narsum yang bersedia untuk mendiskusikan dokumen tersebut ke pihak The Debrief, isi laporannya juga mempertimbangkan kalau UAP / UFO yang dipotret merupakan teknologi milik "alien" atau "non manusia".

Pada tanggal 3 Desember 2020 pihak The Debrief pun menerbitkan foto yang akhirnya bocor tersebut.

Fotonya (setelah di-zoom in) bisa anda lihat di bawah ini. Terlihat berwarna perak dan sedang mengarah ke bawah. Permukaan bawahnya menghadap kamera.

 
Sementara foto aslinya (resolusi tinggi) bisa anda lihat di paling atas.

Rabu, 02 Desember 2020

Laporan Terbaru Intelijen AS Ungkap Kasus UFO Bentuk Segitiga yang Mampu Beroperasi di Laut dan Udara

 

KabarUFO, Jakarta - Laporan terbaru dari pihak intelijen angkatan laut AS ungkap kasus perjumpaan dengan UFO bentuk segitiga yang mampu beroperasi di laut dan udara. Seperti apa?

Pada 2 Desember 2020 situs The Debrief menerbitkan artikel panjang tentang tim gugus tugas khusus penanganan kasus UFO, Unidentified Aerial Phenomena Task Force (UAPTF), yang sudah diresmikan oleh pihak Department Of Defense pada tanggal 4 Agustus 2020. UAPTF berada di bawah wewenang Office of Naval Intelligence (Kantor Intelijen Angkatan Laut AS).

Dilansir dari The Debrief, beberapa narasumber (yang dirahasiakan namanya) mengkonfirmasi ke The Debrief, kalau pihak UAPTF baru-baru ini menerbitkan dua laporan intelijen rahasia, yang satu laporannya dideskripsikan oleh salah seorang narsum sebagai 'mengejutkan'.

Dua orang dari pihak Department of Defense dan satu dari United States Intelligence Community (IC) bersedia untuk memberikan detail konten dari laporan rahasia tersebut ke pihak The Debrief.

Lalu tambahan tiga orang narsum dari pihak United States Intelligence Community (IC) dan penyelenggaraan hukum federal juga mengkonfirmasi keberadaan laporan tersebut, namun mereka hanya ingin berkomentar terkait distribusi dari laporan tersebut saja.

Meski The Debrief tidak menyediakan informasi nama dan jabatan dari para narsum, namun mereka memberi petunjuk kalau semua narsumnya bekerja di United States Intelligence Community (IC) dan Director of National Intelligence (DNI).


UFO Bentuk Segitiga yang Mampu Beroperasi di Laut dan Udara


Salah satu laporan terbaru dari UAPTF yang beredar di kalangan intelijen AS adalah UFO bentuk segitiga yang mampu beroperasi di laut dan udara. Semua narasumber untuk The Debrief pun mengiyakan adanya laporan ini. Bahkan bukti fotonya juga ada.

Foto UFO bentuk segitiga tersebut dipotret dari dalam kokpit pesawat jet tempur. Digambarkan kalau UFO tersebut berbentuk segitiga dengan tiga cahaya putih bentuk lingkaran di tiap sudut permukaan bawahnya.

Narsum yang mengaku pernah melihat fotonya mengatakan kalau foto tersebut diambil pada tahun 2019 oleh seorang pilot jet F/A-18.

Sementara dua narsum yang mengaku menerima laporan tersebut mengatakan kalau foto tersebut dipotret setelah UFO tersebut muncul dari laut dan naik ke langit dengan sudut terbang 90 derajat.

Diindikasikan kalau kasus UFO tersebut terjadi di wilayah Pantai Barat AS. Beberapa sumber lain juga mengkonfirmasi eksistensi dari foto tersebut, namun mereka menolak memberikan informasi detail dari kasus tersebut.

Para narsum yang mengaku membaca laporan UAPTF tersebut, mengatakan kalau laporan tersebut banyak fokus ke “Unidentified Submersible Phenomena" atau kendaraan "transmedium" yang mampu beroperasi di air dan udara.

Tiga narasumber untuk The Debrief mengatakan kalau laporan tersebut juga mengisyaratkan pihak UAPTF percaya kalau objek-objek misterius ini mungkin juga berasal dari lautan-lautan di Bumi.


Unidentified Submerged Object (USO) / Benda Bawah Air Tak Dikenal


Sebelumnya tiga tahun lalu, astronom dan chief-video / image-analyst untuk Mutual UFO Network (MUFON), Marc D’Antonio, berbagi cerita dari kasus Unidentified Submerged Object (USO) yang oleh pihak US Navy disebut sebagai "Fast Mover", karena bergerak sangat cepat di dalam laut.

Pengalaman ini didapat oleh Marc D'Antonio ketika ia berlayar sebagai warga sipil di salah satu kapal laut US Navy, saat sedang mengarungi Samudera Atlantik Utara.

Tahun lalu, situs The Drive juga mewawancarai beberapa penyelam veteran terkait kasus USO. Para penyelam US Navy yang diwawancara mengamini kalau memang ada beberapa objek bawah air yang bergerak sangat cepat dan terekam oleh radar kapal angkatan laut.

Salah satu narsum untuk The Debrief yang juga seorang anggota senior di United States Intelligence Community (IC), yang kewajibannya selama puluhan tahun melibatkan program pengintaian bawah air, mengatakan kalau memang benar ada objek-objek bawah air tak dikenal yang bergerak sangat cepat dan terdeteksi oleh sistem militer Amerika Serikat.

Kemudian para narsum yang mengaku telah membaca laporan terbaru UAPTF tersebut, mengatakan kalau pihak UAPTF tertarik pada subjek "transmedium vehicles", yakni kendaraan yang bisa beroperasi di air dan udara tersebut.

Pihak The Debrief juga mewawancarai Steven Zaloga, penulis buku tahunan World Military Unmanned Aerial Systems Market Profile & Forecast, dan juga seorang pengamat senior bidang pertahanan untuk Teal Group di Virginia.

Pihak The Debrief bertanya ke Zaloga mengenai kendaraan "transmedium". Zaloga mengatakan kalau ia tidak tahu eksistensi teknologi kendaraan buatan manusia yang mampu beroperasi di air dan udara sekaligus.


Tambahan


Karena tulisan ini menyinggung tentang UFO bentuk segitiga. Pada tahun 2019 KabarUFO juga pernah menulis artikel panjang tentang UFO bentuk segitiga. Baca artikelnya di SINI.

Emblem / patch bordir logo KabarUFO

Emblem (patch) bordir KabarUFO. Ukuran 7 cm. Rp30.000. Untuk pembelian kontak ke: kabarufo@gmail.com

Rabu, 30 September 2020

Pemerintah Jepang Resmi Umumkan Protokol untuk Hadapi UFO

 

KabarUFO, Jakarta - Setelah pada bulan April kemarin pemerintah Jepang mengabarkan kalau mereka tengah menggodok protokol untuk hadapi UFO. Kini (September 2020) mereka resmi umumkan isi dari protokol tersebut. Seperti apa?

Dilansir dari JapanTimes, Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono, pada Selasa (15/9) resmi perintahkan kepada Angkatan Bersenjata Jepang (Japan Self-Defense Forces / Jieitai / JSDF), protokol untuk menghadapi UFO yang mampu mengancam keamanan Jepang.

Di dalam pernyataannya tersebut, Kono meminta kepada para anggota JSDF untuk merekam (video) dan memotret UFO, jika memasuki wilayah udara Jepang, dan segera mengambil langkah lebih lanjut untuk menganalisa penampakan tersebut, termasuk penyediaan transparansi informasi tersebut ke publik.

Pada konferensi pers yang digelar tanggal 15 September tersebut, dilansir dari The Diplomat, Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono, mengatakan kalau kebijakan baru ini harus dilihat sebagai upaya pengumpulan informasi, bukan untuk mencari objek terbang misterius dari luar angkasa.

Kebijakan baru pemerintah Jepang ini merupakan sebuah angin segar perubahan, karena sebelumnya pada Februari 2018 pemerintah Jepang menyangkal eksistensi dari UFO. Kabinet pemerintahan Jepang saat itu juga tidak memiliki kebijakan khusus untuk merespon penampakan UFO.

Sebelumnya pada tahun 1992 Jepang memiliki pusat penelitian UFO dan museum UFO yang bernama 'UFO Fureaikan' (UFO Friendship Center) yang berlokasi di Iinomachi, prefektur Fukushima. Pusat penelitian tersebut dibangun di bukit Senganmori, yang merupakan salah satu titik tempat penampakan UFO sering terjadi.

Senin, 21 September 2020

Penampakan UFO di Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta (12/9/2020)

 

KabarUFO, Jakarta - Seseorang bernama Gabriel Nugroho Jati mengirimkan ke KabarUFO rekaman video penampakan UFO yang ia lihat. Seperti apa?

Gabriel Nugroho Jati mengirimkan video penampakan UFO di atas Jalan Bugisan, Gang Lokananta, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta, Indonesia, pada hari Sabtu tanggal 12 September 2020, pukul 18:39 WIB.

"UFO tersebut bergerak dari arah selatan ke utara. Bentuk objeknya seperti lampu tapi tidak kedap-kedip. Seperti bintang," terang Gabriel kepada KabarUFO.

Tonton videonya di atas.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Mengenal George Knapp, Wartawan yang Pertama Kali Membocorkan Area-51 ke Dunia pada Tahun 1989


KabarUFO, Jakarta - Area 51 adalah salah satu situs paling populer di dunia, meski rahasia masih sangat menyelimutinya. Tahukah anda siapakah orang yang pertama kali membocorkan informasi Area-51 ke dunia? Dia adalah George Knapp.

George Knapp adalah wartawan yang pertama kali membocorkan informasi tentang Area 51 ke publik pada tahun 1989.

Semenjak itu, George Knapp menjadi figur penting di dunia jurnalisme untuk bidang ufologi. Padahal sebelum kasus tersebut, George sama sekali tidak tertarik dengan dunia ufologi.

"Semuanya berawal pada tahun 1987 ketika datang John Lear ke studio televisi tempat saya bekerja, KLAS TV. John sempat maju sebagai kandidat untuk State Senator wilayah Nevada. Ayahnya John adalah Bill Lear, pencipta 8-track tape dan pendiri Lear Jet Corporation, perusahaan manufaktur pesawat jet pribadi. John Lear sangat kredibel untuk KLAS TV, karena dia yang pertama kali membocorkan ke kami tentang info rahasia pesawat tempur pertama dengan teknologi stealth, F-117 Nighthawk. Berita kami tentang pesawat itu pun jadi isu nasional," papar George, ketika diwawancara di acara podcast Joe Rogan Experience #1510, Juli 2020.

"Suatu ketika John Lear datang lagi ke studio kami menemui Ned Day, Managing Editor di KLAS TV, sambil membawa sejumlah dokumen tentang Area-51 dan UFO," tambahnya.

"John datang sambil berkata: Ned, ini adalah berita besar selanjutnya, berita besar sepanjang masa, tentang upaya menutup-nutupi UFO, Area-51, alien sudah berada di Bumi, teknologi alien sudah diteliti, dll. Ned pun menjawab: Tidak, saya tidak mau mengambil kasus ini," ungkap Knapp.

George Knapp yang saat itu juga sedang ada di studio pun penasaran ingin pula melihat dokumen-dokumen tersebut. Saat itu Knapp tengah memproduseri On The Record, sebuah program wawancara khusus selama 30 menit yang tayang tiap hari Minggu pukul 06:00 pagi di KLAS TV.

Akhirnya John Lear pun diwawancara oleh Knapp di acara On The Record, pada Januari 1987. Tonton tiga bagian dari wawancara tersebut di bawah ini.




Setelah wawancara John Lear itu tayang, telpon di kantor KLAS TV pun sering berdering; banyak penonton yang penasaran. John Lear pun diundang hingga tiga kali di program On The Record. Kemudian Lear pun merekomendasi ke Knapp seseorang yang pernah bekerja di sebuah fasilitas rahasia dekat Area-51, bernama Bob Lazar.

Beberapa bulan kemudian ketika Knapp sedang siaran, salah satu narsumnya tidak datang, maka ia pun harus cari segera penggantinya. Knapp pun kepikiran Lear, ia pun menelpon John Lear untuk menanyakan apakah narsum yang direkomendasikan kepada dirinya (Bob Lazar) bisa diwawancara. Akhirnya Bob Lazar pun diwawancara oleh George Knapp pada Mei 1989, masih dengan identitas yang dirahasiakan sebagai 'Dennis'.

Bob menjelaskan ke Knapp kalau ia bekerja di S-4, sebuah fasilitas rahasia milik pemerintah yang berfungsi untuk merekayasa kembali teknologi milik alien. Di dalam fasilitas tersebut Bob melihat ada sembilan buah piring terbang dalam hanggar. S-4 sendiri masih berlokasi dekat dengan Area-51. Tonton video wawancara pertama Knapp dengan Bob Lazar di bawah ini.


Setelah wawancara Bob Lazar ditayangkan, respon penonton pun makin besar. George Knapp pun kembali mewawancara Lazar dengan lebih mendetail. "Topik ini sangat beresiko bagi kami para jurnalis, juga buat reputasi kami pribadi," ujar Knapp.

Akhirnya, demi mendalami isu yang tengah digarap, Knapp pun menghabiskan waktu selama delapan bulan, khusus untuk mendalami dunia ufologi.

Setelah beberapa kali mewawancarai Lazar, respon publik membesar, masyarakat awam pun sadar akan keberadaan Area-51, dan makin banyak orang yang berbagi kisahnya ke Knapp tentang pengalaman kasus UFO.

Meski sudah dibongkar oleh George Knapp sejak tahun 1989, Area-51 sendiri (akhirnya) baru diakui keberadaannya oleh pemerintah Amerika Serikat secara resmi pada 25 Juni 2013.

Tonton video wawancara panjang terbaru dengan George Knapp oleh podcast Joe Rogan Experience episode #1510 yang tayang pertama kali pada 17 Juli 2020.

Rabu, 29 Juli 2020

Pentagon Akui Memang Ada Beberapa Kasus UFO Jatuh


KabarUFO, Jakarta - Sedikit demi sedikit, pada tahun 2020 ini pihak pemerintah Amerika Serikat membuka tabir rahasia dari kasus-kasus UFO. Kali ini pihak Pentagon (Department Of Defense) mengakui kalau memang ada beberapa kasus UFO yang jatuh.

Dilansir dari artikel terbaru The New York Times yang tayang pada 28 Juli 2020, pihak Pentagon mengakui kalau memang ada beberapa kasus UFO yang jatuh.

Tiga paragraf terakhir di artikel tersebut menyebut kalau memang ada beberapa kasus UFO yang jatuh, dan itu bukan pesawat milik Rusia ataupun China.

Numerous associates of the Pentagon program, with high security clearances and decades of involvement with official U.F.O. investigations, told us they were convinced such crashes have occurred, based on their access to classified information. But the retrieved materials themselves, and any data about them, are completely off-limits to anyone without clearances and a need to know.

We were provided a series of unclassified slides showing that the program took this seriously enough to include it in numerous briefings. One slide says one of the program’s tasks was to “arrange for access to data/reports/materials from crash retrievals of A.A.V.’s,” or advanced aerospace vehicles.

Our sources told us that “A.A.V.” does not refer to vehicles made in any country — not Russian or Chinese — but is used to mean technology in the realm of the truly unexplained. They also assure us that their briefings are based on facts, not belief.



Artinya:

Sejumlah orang yang terlibat di pelbagai program di Pentagon, menyatakan ke kami kalau mereka yakin kalau sejumlah kasus UFO jatuh itu memang ada, berdasarkan pada akses mereka ke dokumen-dokumen rahasia. Namun untuk material dari UFO yang jatuh tersebut, serta data-data tentangnya, sangat terbatas bagi orang-orang yang tidak memiliki ijin resmi.

Kami disediakan serangkaian slide dari dokumen-dokumen yang menunjukan kalau program-program Pentagon ini sangat menanggapi serius kasus-kasus UFO, yang salah satunya juga melalui beberapa pengarahan. Salah satu slide mengatakan kalau salah satu tujuan dari program Pentagon adalah untuk "mengatur untuk akses ke data / laporan / material dari kasus A.A.V yang jatuh," atau advanced aerospace vehicles (kendaraan luar angkasa canggih).

Sumber-sumber kami juga mengatakan kalau "A.A.V" itu bukan mengacu pada kendaraan buatan negara manapun di Bumi ini - bukan Rusia ataupun China - tapi digunakan untuk mengacu pada teknologi canggih yang tak bisa dijelaskan. Kemudian mereka juga meyakinkan kami kalau pengarahan yang mereka dapatkan itu berdasarkan fakta, bukan keyakinan.

Sabtu, 25 Juli 2020

Senat AS Sudah Tahu Tentang Materi Kepingan dari UFO yang Jatuh?


KabarUFO, Jakarta - Seorang ilmuwan astrofisika ternama Amerika Serikat mengatakan kalau Senat AS sudah mendapat pengarahan tentang materi kepingan dari UFO yang jatuh. Seperti apa?

Dilansir dari The New York Times, Dr. Eric W. Davis, seorang ilmuwan astrofisika ternama, mengatakan kalau pada Maret 2020 kemarin ia telah memberikan pengarahan rahasia kepada sebuah agensi Departemen Pertahanan Amerika Serikat, tentang material dari "kendaraan yang bukan buatan Bumi".

Dr. Davis mengatakan kalau ia juga memberikan pengarahan rahasia tentang material dari UFO ke sejumlah anggota staf Committee on Armed Services (SASC) pada 21 Oktober 2019, serta kepada para anggota staf United States Senate Select Committee on Intelligence (SSCI) pada 23 Oktober 2019.

Para anggota staf Commitee sendiri tidak merespon ketika diminta komentarnya oleh The New York Times mengenai hal ini.


Dr. Eric W. Davis adalah seorang ilmuwan astrofisika. Eric W Davis mendapat gelar Ph.D bidang astrofisika pada tahun 1991 di University of Arizona.

Eric adalah peneliti di Institute for Advanced Studies-Austin and EarthTech International, dan juga CEO di Warp Drive Metrics.

Pada tahun 1996–2002 Dr. Eric W. Davis bekerja sebagai ilmuwan Aerospace/Astro-Physics di National Institute for Discovery Science, Las Vegas, Nevada.

Selain itu, Dr. Eric W. Davis juga turut mendirikan Advanced Deep Space Transport Technology Assessment (Breakthrough Propulsion Physics) Group di NASA-JSC.

Dr. Eric Davis juga bekerja sebagai konsultan di Advanced Aerospace Threat Identification Program (AATIP) sejak awal tahun berdirinya, yakni 2007.

Davis mengatakan kalau di beberapa kasus, uji coba untuk material UFO tersebut gagal untuk menjelaskan asal-muasalnya.

Bekas Senator di negara bagian Nevada (1987 - 2017) dan mantan Democratic Senate Majority Leader (2007 - 2015), Harry Reid, yang juga pendukung awal pendanaan untuk berdirinya AATIP, mengatakan kalau ia percaya material dari UFO yang jatuh itu sudah ada di tangan manusia, dan sepatutnya diteliti.

"Saya sampai di sebuah kesimpulan, bahwa memang ada material (UFO) yang dimiliki oleh pihak pemerintah maupun sektor swasta," ujar Harry Reid dalam sebuah wawancara.

Sebelumnya pada 25 Juli 2019 pihak To The Stars Academy memberi pernyataan kalau mereka mengakuisisi meta-material, yang diklaim merupakan kepingan dari kendaraan luar angkasa canggih, yang asalnya tidak diketahui.

Jumat, 24 Juli 2020

Lebih Transparan, Pentagon Akan Umumkan Lagi Beberapa Temuan Kasus UFO ke Publik


KabarUFO, Jakarta - Department Of Defense (Pentagon) kini jadi lebih transparan untuk kasus-kasus UFO, dan akan umumkan lagi beberapa temuan mereka ke publik.

Dalam tiga tahun terakhir, desakan baik dari dalam internal pemerintahan Amerika Serikat maupun dari masyarakat kian kuat untuk urusan pengungkapan kasus UFO. Pihak Pentagon sendiri ke depannya akan jadi lebih transparan ke publik.

Dilansir dari The New York Times, meski Advanced Aerospace Threat Identification Program (AATIP) [2007-2012] sudah dibubarkan oleh Pentagon, namun penyelidikan kasus UFO oleh pemerintah AS tetap berlanjut. Kini penelitiannya di bawah wewenang Office of Naval Intelligence (Kantor Intelijen Angkatan Laut AS).

Tim gugus tugas khusus yang bernama Unidentified Aerial Phenomenon Task Force ini nantinya diwajibkan untuk melaporkan temuan mereka ke publik tiap enam bulan sekali, berdasarkan dari RUU Intelijen terbaru Amerika Serikat.

Bekas Senator di negara bagian Nevada (1987 - 2017) dan mantan Democratic Senate Majority Leader (2007 - 2015), Harry Reid, berharap kalau program baru ini (Unidentified Aerial Phenomenon Task Force) bisa mencari bukti akan keberadaan kendaraan-kendaraan dari dunia lain.

Luis Elizondo, bekas Direktur di AATIP yang kini bekerja di To The Stars Academy, mengkonfirmasi kalau Unidentified Aerial Phenomenon Task Force adalah hasil gubahan dari AATIP.

"(program ini) Tak lagi harus sembunyi-sembunyi. Program ini akan memiliki transparansi yang baru," ujar Elizondo.

Sebelumnya, pada Senin, 27 April 2020 kemarin, pihak US Defense Department / Pentagon resmi merilis ke publik tiga buah video penampakan UFO.

Senin, 20 Juli 2020

Dokumen CIA Ungkap Kasus Jatuhnya UFO di Pegunungan Himalaya


KabarUFO, Jakarta - Dokumen CIA mengungkap kalau UFO pernah jatuh di pegunungan Himalaya. Seperti apa?

Dokumen-dokumen milik pihak Defense Intelligence Agency (DIA) dan Central Intelligence Agency (CIA) mengungkap kalau UFO pernah jatuh di pegunungan Himalaya pada tahun 1968.

Sebuah dokumen lawas milik CIA, yang kini bisa diakses online, mengungkap kalau pada bulan Februari sampai Maret 1968 di wilayah Pokhara (Nepal), Ladakh (India), Sikkim (India), dan negara Bhutan, terlihat serangkaian penampakan UFO, dan terjadi sebuah kasus jatuhnya objek misterius bentuk oval.

Kronologi kejadiannya adalah seperti berikut ini:

- 4 Maret 1968 terlihat penampakan UFO bentuk cahaya putih. Terdengar pula dua kali suara ledakan. Kemudian disusul oleh objek warna merah yang berasap. Kejadian ini terlihat di wilayah: Chang La (Himalaya), Fukche (Ladakh) dan Koyul (Ladakh).

- 19 Februari 1968 sebuah objek warna merah tipis-panjang dan bergerak cepat terlihat di wilayah: Walungchung Gola (Himalaya) dan Ghunsa (Nepal). Suara ledakan keras juga terdengar sehabis penampakan terjadi.

- Di tanggal yang sama, yakni 19 Februari 1968, di wilayah: Lachung (Sikkim), Lachen (Sikkim), Thangu (Nepal) dan Chholhamu (Sikkim), juga terlihat penampakan yang sama.

- 21 Februari 1968 puku 09:30 malam di wilayah Thimpu (Bhutan) terlihat objek misterius warna biru yang terbang dengan kecepatan tinggi tanpa mengeluarkan suara. Cahayanya cukup terang untuk menerangi wilayah sekitarnya.

- 4 Maret 1968 pukul 01:00 siang di wilayah Ane La (Ladakh) terlihat penampakan sebuah objek misterius yang terbang memutar, meninggalkan jejak asap di belakangnya.

- 25 Maret 1968 pukul 09:50 malam di wilayah Fukche (Ladakh), Koyul (Ladakh) dan Demchok (India), sebuah objek misterius yang berbentuk seperti roket terbang meninggalkan jejak asap berwarna putih-kuning.

- 29 Februari 1968 di wilayah distrik Kaski (Nepal), Pokhara (Nepal), Talakot (Odisha), Turepasal (Nepal) dan Tanahun (Nepal), terlihat objek misterius menyala, berkilap dan diikuti oleh suara gemuruh yang keras.

- Di tanggal yang sama, 29 Februari 1968, sebuah objek metalik misterius berbentuk piringan ditemukan di kawah Baltichaur; 8 km timur laut dari lembah Pokhara. Beberapa bagian dari objek tersebut juga ditemukan di wilayah Talakot (Odisha) dan Turepasal (Nepal).

Detailnya bisa dicek langsung di dokumennya CIA. Klik di SINI.


Respon Pihak AS Atas Kasus Ini Terungkap di Dokumen Milik DIA


Pada Juli 1968 pihak Kedubes AS di Kathmandu, Nepal, mengirim surat ke Pentagon yang isinya melaporkan kalau ditemukan empat buah objek.


Surat tersebut diberi judul "Moon Dust". Project Moon Dust sendiri merupakan proyek dari US Air Force selama Perang Dingin yang bertujuan untuk mengumpulkan sisa-sisa objek luar angkasa milik Uni Soviet yang jatuh dan mengeksploitasi teknologinya.

Dokumen DIA tersebut mengungkap kalau pihak Nepal ingin mengetahui asal-muasal objek-objek tersebut dan menanyakan ke pihak AS apakah ingin para ahli untuk menelitinya.

Menurut pihak Nepal, keempat objek tersebut jatuh pada tanggal 25-26 Maret 1968 di tiga lokasi yang berbeda. Dari objek-objek tersebut ada yang berbentuk oval dan segitiga.


Kemudian dokumen milik Department Of Defense (Pentagon) tanggal 22 Mei 1968 yang ada di DIA juga mengindikasikan hasil penemuan objek-objek yang sama; objek bentuk segitiga dan objek metalik bentuk melingkar.

Sayang, kelanjutannya tidak lagi dijelaskan di dokumen-dokumen milik DIA tersebut.

Cek detail kasus ini di dokumennya DIA. Klik di SINI. Ada di halaman: 54, 55 ,56, 57, 104, 105 & 106.

Kamis, 02 Juli 2020

KabarUFO Diwawancara oleh Podcast Sirkus Punk


KabarUFO diwawancara oleh podcast Sirkus Punk. Membahas tentang fenomena UFO di Indonesia, dunia & disclosure. Dengarkan wawancara panjangnya di SINI.

Senin, 29 Juni 2020

Newsletter KabarUFO vol. 1 (akhir Juni 2020)


Newsletter KabarUFO vol. 1 (akhir Juni 2020). Berisikan konten eksklusif yang tidak ada di blog & medsos kami. Cetak berwarna. Rp30.000. Bonus 1" button & sticker vinyl.

Untuk pembelian kontak ke: kabarufo@gmail.com

Dokumen Senat Ungkap Eksistensi Tim Khusus Angkatan Laut AS untuk Kasus UFO


KabarUFO, Jakarta - Dokumen Senat AS terbaru ungkap eksistensi tim gugus tugas khusus dari Kantor Intelijen Angkatan Laut AS untuk penanganan UFO. Seperti apa?

Dokumen terbaru dari United States Senate Select Committee on Intelligence (SSCI) mengungkap adanya tim gugus tugas khusus dari Office of Naval Intelligence (Kantor Intelijen Angkatan Laut AS) untuk kasus UFO.

Sebelumnya panel SSCI yang dipimpin oleh Senator Marco Rubio, meminta kepada para badan intelijen dan Departemen Pertahanan mengumpulkan semua data milik kasus UFO milik mereka, untuk sebuah analisis publik.

Permintaan dari pihak SSCI tersebut dilayangkan melalui dokumen berjudul Intelligence Authorization Act for FY 2021, tertanggal 17 Juni 2020.

Di halaman 11 sampai 12 dokumen tersebut terungkap kalau Office of Naval Intelligence memiliki tim khusus untuk penanganan kasus UFO yang bernama Unidentified Aerial Phenomenon Task Force.


Berikut adalah kutipan yang menyinggung tim khusus penanganan UFO milik pihak Office Naval Intelligence, yang tertera di dokumen Intelligence Authorization Act for FY 2021:

Advanced Aerial Threats

The Committee supports the efforts of the Unidentified Aerial Phenomenon Task Force at the Office of Naval Intelligence to standardize collection and reporting on unidentified aerial phenomenon, any links they have to adversarial foreign governments, and the threat they pose to U.S. military assets and installations. However, the Committee remains concerned that there is no unified, comprehensive process within the Federal Government for collecting and analyzing intelligence on unidentified aerial phenomena, despite the potential threat. The Committee understands that the relevant intelligence may be sensitive; nevertheless, the Committee finds that the information sharing and coordination across the Intelligence Community has been inconsistent, and this issue has lacked attention from senior leaders.

Therefore, the Committee directs the DNI, in consultation with the Secretary of Defense and the heads of such other agencies as the Director and Secretary jointly consider relevant, to submit a report within 180 days of the date of enactment of the Act, to the congressional intelligence and armed services committees on unidentified aerial phenomena (also known as ‘‘anomalous aerial vehicles’’), including observed airborne objects that have not been identified.

The Committee further directs the report to include:

1. A detailed analysis of unidentified aerial phenomena data and intelligence reporting collected or held by the Office of Naval Intelligence, including data and intelligence reporting held by the Unidentified Aerial Phenomena Task Force;

2. A detailed analysis of unidentified phenomena data collected by:
a. geospatial intelligence;
b. signals intelligence;
c. human intelligence; and
d. measurement and signals intelligence;

3. A detailed analysis of data of the FBI, which was derived from investigations of intrusions of unidentified aerial phenomena data over restricted United States airspace;

4. A detailed description of an interagency process for ensuring timely data collection and centralized analysis of all unidentified aerial phenomena reporting for the Federal Government, regardless of which service or agency acquired the information;

5. Identification of an official accountable for the process described in paragraph 4;

6. Identification of potential aerospace or other threats posed by the unidentified aerial phenomena to national security, and an assessment of whether this unidentified aerial phenomena activity may be attributed to one or more foreign adversaries;

7. Identification of any incidents or patterns that indicate a potential adversary may have achieved breakthrough aerospace capabilities that could put United States strategic or conventional forces at risk; and

8. Recommendations regarding increased collection of data, enhanced research and development, and additional funding and other resources.

The report shall be submitted in unclassified form, but may include a classified annex.


Dokumen Intelligence Authorization Act for FY 2021 bisa diakses dan diunduh via situs resmi Kongres Amerika Serikat. Klik di SINI dan cek di halaman 11-12.

Sabtu, 27 Juni 2020

Dokumen Gedung Putih Mengisyaratkan Kalau Tahun 2021 NASA Berencana Ungkap Kehidupan Alien ke Kalangan Agama di Seluruh Dunia


KabarUFO, Jakarta - Sebuah dokumen terbaru Gedung Putih mengisyaratkan kalau tahun 2021 NASA berencana untuk ungkap kehidupan alien ke kalangan agama di seluruh dunia.

Sebuah dokumen yang berjudul A Budget For America's Future - Fiscal Year 2021 keluaran pihak Office of Management and Budget (OMB) di Gedung Putih mengisyaratkan kalau tahun 2021 nanti NASA berencana menyiapkan seluruh agama di dunia untuk penemuan kehidupan ekstraterrestrial.

Isyarat tersebut ada di halaman 14 dokumen A Budget For America's Future - Fiscal Year 2021 yang format digitalnya bisa diakses via situs resmi Gedung Putih.

"Millions to prepare religions for discovering extraterrestrial life (which are real, and unfortunate, examples of wasteful spending)," tulis pihak OMB, dalam menyoroti pengeluaran yang tidak perlu untuk tahun 2021.

Pendanaan untuk NASA sebesar 1 juta Dollar, dalam rangka persiapan pengungkapan kehidupan ekstraterrestrial ke kalangan agama di seluruh dunia ini juga terkait dengan catatan Congressional Record - Senate pada tanggal 10 Januari 2017.


"A $1 million NASA project is preparing the world's religions for the possible discovery of extraterrestrial life forms--$1 million to prepare the world's religions for the possible discovery of extraterrestrial life forms. Do we need to spend that, really?" yang tertulis di dokumen tersebut; yang mana juga dikritisi pengeluaran sebesar itu oleh pihak Senat.

Baca dan unduh dokumen A Budget For America's Future - Fiscal Year 2021 via situs resmi Gedung Putih, melalui tautan berikut. Cek di halaman 14.